Latest News
SLEMAN: Peserta pameran Jogja Holiday Fair yang diadakan Ambarrukmo Plaza (Amplaz) serta PT Metamorf Promosindo panen omzet.
Menjelang hingga sesudah Lebaran jumlah pengunjung meningkat. “Kunjungan ramai sejak hari kedua pameran sampai sekarang, tapi puncaknya saat H-1 dan H+3 Lebaran. Pameran dibuka pukul 10.00-22.00 WIB,” terang Adi.
Meski jumlah pengunjung tidak sebanyak jelang dan sesudah Lebaran tetapi, katanya, sampai Rabu (15/9) kunjungan masih tinggi. “Karena masuk sekolah Senin (20/9), jadi banyak yang libur.”
Pengunjung pameran, ujarnya, mayoritas berasal dari luar kota atau pemudik yang datang ke Jogja. Untuk itu, ia yakin hingga hari terakhir pameran intensitas kunjungan tetap tinggi.
“Ada peserta yang kenaikan omzetnya sampai 60%. Misalnya omzet biasa Rp1 juta per hari jadi Rp5 juta-Rp6 juta per hari,” tambahnya
sumber: www.harianjogja.com
YOGYA (KRjogja.com) - Para pengusaha di kawasan Malioboro yang tergabung dalam Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM) mengeluhkan omset penjualan selama libur lebaran tahun ini yang tidak sebagus tahun lalu. Masa libur lebaran yang terlalu pendek ditambah perubahan cuaca yang tidak menentu, disinyalir menjadi penyebab jebloknya omset penjualan tersebut.
"Kami tidak tahu pasti kenapa bisa terjadi, padahal kami perkirakan minimal sama dengan tahun lalu. Mungkin karena masa liburan yang lebih pendek sehingga masa kunjungan ke Yogyakarta dan berbelanja lebih pendek," kata Ketua Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM), Suryadi Suryadinata di Toko Batik Surya, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Kamis (16/9).
Suryadi mengatakan hari lebaran yang jatuh pada hari Jumat, membuat masa liburan lebih pendek dan sama seperti liburan biasa pada akhir pekan. Masa libur yang pendek juga berakibat pada menumpuknya pengunjung hanya di beberapa hari saja dan banyak toko oleh-oleh kewalahan melayani para pengunjung.
"Padahal kalau masanya lebih panjang, kita sebagai pengusaha pun bisa lebih santai melayani konsumen. Konsumen pun tidak perlu berdesakan berbelanja karena bisa memilih hari yang dianggap lengang untuk berbelanja," katanya.
Ditambahkannya, kondisi parkir yang semrawut dan sampah berserakan di mana-mana serta bau pesing kuda yang menyebar menusuk hidung, membuat para pengunjung enggan berlama-lama di Malioboro. "Kami melihat banyak wisatawan yang mengeluhkan kondisi parkir yang tidak tertata dan tidak cukup menampung. Ditambah lagi sampah yang berserakan meski sudah ada tempat sampah serta bau pesing kuda yang membuat hidung tidak nyaman," paparnya.
Kondisi ini diakui juga oleh Ketua Paguyuban Handayani Malioboro, Sogi Wartono yang mengalami penurunan omset penjualan makanan lesehan di kawasan Malioboro. "Lebaran tahun-tahun sebelumnya, teman-teman pedagang makanan di siang hari selalu ramai pengunjung selama lima hari, bahkan tiga hari yang mana di antaranya selalu membludak hingga selalu kehabisan dagangan. Tapi tahun ini memang ada sedikit perbedaan yakni penurunan omset karena hujan," pungkasnya.
sumber berita: www.krjogja.com
