Latest News
Di tangan generasi kedua, bisnis Mirota berkembang pesat. Sayangnya, pemisahan kepemilikan masing-masing unit bisnis (perusahaan) dan nuansa persaingan di antara anak-anak pendiri mengancam kekompakan keluarga, bahkan keberlangsungan bisnis yang hampir melegenda ini. Bagaimana menyelamatkannya sebelum benar-benar berantakan?
Suara gending terdengar lembut mengalun ketika SWA tiba di The House of Raminten. Sejumlah wanita berpakaian kemben dan jarik tampak lalu-lalang melayani pengunjung di kafe jamu yang baru dibuka setengah tahun lalu dan kini sedang naik daun itu. Meski namanya memakai bahasa Inggris, suasana yang disuguhkan penuh bernuansa Jawa, mulai dari penampilan karyawan hingga musik yang diperdengarkan.
Pendiri kafe ini adalah Hamzah Sulaiman (59 tahun). Bagi kebanyakan warga Yogya, nama Hamzah dikenal sebagai seniman kawakan yang sering memerankan tokoh waria dalam acara pertunjukan di TV lokal. Namun, ia bukan seniman biasa, karena juga berprofesi sebagai desainer dan pengusaha sukses di Kota Gudeg. Asal tahu saja, sebagai generasi kedua keluarga Mirota, ia adalah pemilik Mirota Batik, salah satu usaha di lingkungan keluarga besar Mirota, yang punya toko di kawasan Malioboro (Yogya) dan Pakem (Sleman).
Tak seperti unit usaha Mirota lainnya, The House of Raminten sama sekali tak menempelkan embel-embel nama Mirota yang menjadi ciri khas bisnis generasi kedua keluarga ini. Secara terang-terangan, Hamzah menjelaskan bahwa ada peraturan internal dalam keluarganya tentang penggunaan nama Mirota, yakni hanya boleh digunakan oleh mereka yang memiliki garis keturunan langsung atau hubungan darah dengan pendiri Mirota. Padahal The House of Raminten merupakan bisnis milik anak angkat Hamzah, Bagus Dwi Setiawan. “Nanti bisa jadi masalah kalau menggunakan nama Mirota,” ujar lelaki yang juga aktif sebagai pengurus Dewan Kerajinan Nasional DIY itu.
Hamzah merupakan bungsu dari lima bersaudara anak pendiri Grup Mirota, yaitu mendiang Hendro Sutikno (Tan Kiem Tik) dan Tini Yuniati (Nyoo Tien Nio). Keempat saudaranya yang lain, mulai dari yang tertua, yakni: Yangky Iswanti (66 tahun), Siswanto (64 tahun), Ninik Wijayanti (62 tahun) dan Ariyanti (60 tahun).
The House of Raminten memang hanya salah satu usaha milik keluarga Hamzah – yang tak memakai nama Mirota. Keluarga kakak-kakaknya memiliki bisnis masing-masing – yang sebagian juga tak memakai nama Mirota. Lalu, bagaimana kabar Mirota sendiri?
Yang jelas, postur bisnis Mirota yang usianya hampir 80 tahun, jauh berbeda dibanding ketika dirintis sang pendirinya. Untuk level Jawa-Tengah-DIY, skala bisnisnya tak bisa lagi dianggap enteng. Maklumlah, cikal bakal kelompok usaha ini adalah sebuah warung kecil. Sekarang, bisnis Mirota mencakup produksi susu, es krim, bakery, supermarket, toko batik, perhotelan, furnitur, dan money changer.
Cerita Mirota bermula ketika Hendro Sutikno yang berstatus sebagai karyawan perusahaan bernama Khian Guan – milik raja gula zaman baheula, Oei Thiong Ham – akan dipindahtugaskan ke Cirebon. Karena keberatan berpisah dari suaminya, Tini yang memiliki keahlian membuat kue dan memasak, mengajak suaminya membuka usaha sendiri. Hendro setuju dengan usul sang istri. Maka, mereka membuka warung di garasi rumah di kawasan Kotabaru, yang kini ditempati Mirota Bakery. Di warung itu, mereka menjual minuman dan roti tawar – dari singkatan hidangan inilah muncul nama Mirota.
Dalam perjalanannya Mirota cepat dikenal. Setelah menyewa tempat di Malioboro, bisnis pasutri ini makin berkembang. Mereka akhirnya memiliki Toko Mirota yang cukup populer di Malioboro kala itu. Setelah merasa modalnya cukup, mereka memberanikan diri mendirikan usaha pabrik susu dengan bendera PT Mirota KSM.
Singkat cerita, sebelum wafat tahun 1970-an, Hendro berhasil mewariskan jiwa bisnis kepada anak-anaknya. Menurut pengakuan Hamzah, bapaknya sengaja mendidik anak-anaknya untuk berwirausaha. “Bapak tidak pernah mendorong anaknya sekolah tinggi-tinggi. Rata-rata kami memang sempat kuliah tapi tidak sampai tamat,” ujar Hamzah.
Penanaman jiwa wirausaha ini tampaknya cukup berhasil. Di tangan generasi kedua, Mirota berkembang dan merambah berbagai lini bisnis. Contohnya, di sektor ritel (pusat perbelanjaan), ada Mirota Kampus, Mirota Babarsari, Mirota Kaliurang, Mirota Palagan, Mirota Gejayan, Mirota Gamping, dan Mirota Godean. Di bidang keuangan ada Mirota Money Changer. Lalu, di dunia hiburan ada Challenger Game Centre dan Rumah Mirota Game Centre (yang belakangan menyediakan fasilitas game online sekaligus kafe). Di bisnis mebel khusus ekspor mereka punya PT Mirota Persada. Selain itu, mereka juga memiliki usaha batik, kerajinan dan pusat penjualan makanan khas daerah lewat Mirota Batik & Craft Centre. Dan masih ada beberapa nama lainnya.
Lokasi bisnis Grup Mirota tidak hanya di Yogya, tetapi tersebar di beberapa kota di Indonesia, mulai dari Denpasar (Mirota Batik & Craft Centre), Nusa Dua (Prosteo Fitness Centre dan Cucu Mirota), Surabaya (Mirota Batik & Craft Centre), Bandung (Hotel Pondok Marta), Tangerang (Mirota Batik & Cratf Centre), dan Batam (Hotel Pantai Mirota).
Khusus di Yogya, nama Mirota sudah kondang. Di kota ini, bendera bisnis Mirota berkibar di mana-mana dalam berbagai jenis usaha. Di bisnis F&B, ada PT Mirota Kinder Sugar Milk (Mirota KSM) yang memproduksi susu bermerek Lactona, Prosteo, dan suplemen manula bermerek Prolansia. Ada pula PT Mirota Sambilegi (es krim), PT Mirota Indah Indonesia (memproduksi bakery bermerek Manna Bakery) dan PT Mirota Kotabaru (Mirota Bakery).
Keluarga Mirota memang terbilang pandai menangkap peluang bisnis. Salah satu kejeliannya adalah menangkap peluang pasar pariwisata Yogya. Saat ini, Mirota Batik dan Mirota Bakery menjadi salah satu gerai yang banyak dikunjungi wisatawan di Kota Gudeg. ”Kalau lagi musim liburan, kami sering kewalahan melayani pengunjung,” ujar Hamzah.
Melihat keberhasilan Grup Mirota selama ini, banyak yang mengira Mirota merupakan satu kelompok usaha yang dijalankan secara bersama-sama (oleh anak-anak sang pendiri). Kenyataannya tidak begitu. Mirota tidak memiliki holding company yang memayungi semua unit bisnisnya. Sebaliknya, setiap anggota keluarga sibuk dengan bisnis masing-masing. Jadi, meskipun mereka sama-sama memakai nama Mirota, sebenarnya kepemilikan setiap usaha yang dikembangkan terpisah-pisah. Itulah sebabnya pengembangan usaha grup ini berjalan sporadis dan tidak terstruktur. Maka, pengembangan bisnis Mirota lebih mengandalkan kreativitas dan kegesitan setiap anak pendiri dalam menerjuni berbagai bidang usaha. Sempat ada wacana untuk membangun semacam holding company yang akan memayungi bisnis keluarga besar Mirota. “Tapi sampai sekarang belum terlaksana,” ujar Jozua L., Manajer Humas PT Mirota KSM, mengakui.
Jozua berpendapat, keberadaan holding company yang memayungi bisnis keluarga besar Mirota merupakan ide yang bagus. Namun, ia melihat holding company seperti itu agaknya hanya akan tinggal wacana saja, karena masing-masing keluarga sudah asyik dengan bisnis masing-masing. “Kami sih berharap generasi ketiga akan bisa mewujudkan impian untuk menyatukan kelompok bisnis Mirota,” kata Jozua.
Jozua boleh berharap. Akan tetapi, yang terjadi belakangan justru cenderung sebaliknya. Hal ini terlihat dengan adanya praktik bagi-bagi bisnis antarkeluarga. Bisnis yang semula berstatus milik bersama kemudian dipisah-pisah untuk dimiliki satu orang saja. Karena itulah, meskipun beberapa perusahan itu sama-sama menggunakan nama Mirota, manajemennya sendiri-sendiri. Jadi masing-masing keturunan pendiri Mirota kini memiliki tanggung jawab terhadap bisnis yang dikelolanya. Berkembang-tidaknya bisnis yang dijalankan tergantung pada kreativitas dan kemampuan pemilik usaha yang bersangkutan.
Sebagai contoh, Siswanto – anak kedua dari Hendro Sutikno – termasuk yang paling banyak mempunyai unit bisnis dengan bendera Mirota. Beberapa bisnis yang dijalankan keluarga Siswanto: PT Mirota Nayan (supermarket), PT Mirota Sambilegi (es krim), PT Mirota Indah Indonesia, Cucu Mirota, Prosteo Fitness Centre, dan Rumah Mirota. Sementara Hamzah memiliki PT Hamzah yang menjalankan bisnis Mirota Batik di Malioboro dan Pakem. Lalu, Yangky Iswanti, selain mengelola PT Kalimas AI, juga memegang beberapa supermarket seperti Mirota Godean dan Mirota Gamping. Adapun Ninik Wijayanti mengelola Mirota Bakery, Mirota Kotabaru, Mirota Gejayan, dan Mirota Money Changer. Dan, Ariyanti yang tinggal di Surabaya menjalankan Mirota Batik & Craft Centre yang ada di Surabaya, Bali, Bandung dan Batam.
Menurut Hamzah, dari sekian banyak bisnis yang dijalankan keluarga besar Mirota, tinggal satu perusahaan yang masih berstatus milik bersama (keluarga Mirota), yakni PT Mirota Kinder Sugar Milk (Mirota KSM). Di perusahaan yang memproduksi susu ini, kepemilikan sahamnya dipegang lima anak Hendro. Menurut sumber SWA, kepemilikan saham mereka masing-masing hampir sama, kecuali Siswanto yang sedikit lebih besar. “Dulu yang membagi saham orang tua kami,” kata Hamzah.
Dari lima bersaudara itu, yang duduk di Dewan Direksi Mirota KSM, ada tiga orang. Siswanto sebagai Dirut dan Direktur Pemasaran, Hamzah sebagai Direktur Produksi, dan Yangky Iswanto dipercaya sebagai Direktur Keuangan. “Di Mirota KSM, kami bekerja berbagi tugas,” Hamzah menerangkan. Menurutnya, mereka sekeluarga berusaha mempertahankan Mirota KSM sebagai milik bersama. Alasannya, hanya lewat Mirota KSM inilah, keluarga besar Mirota bisa menyempatkan waktu buat bertemu. “Kalau tidak ada Mirota KSM mungkin kami sudah tidak ada sarana untuk bertemu lagi,” kata laki-laki yang juga pandai menari ini terus terang.
Hamzah mengakui, ketika ibundanya masih hidup, mereka memiliki pertemuan rutin keluarga sebulan sekali. Setelah sang bunda wafat pada 2005, agenda pertemuan rutin tidak jelas nasibnya. “Kami memang sibuk dengan urusan bisnis masing-masing. Jadi, ketemunya hanya lewat telepon,” ujarnya dengan nada rendah.
Selain sibuk menjalankan bisnis, generasi kedua Mirota ternyata juga sibuk menyiapkan generasi ketiga untuk meneruskan roda usaha masing-masing. Beberapa anggota generasi ketiga keluarga Mirota memang tercatat telah menjalankan bisnis masing-masing. Contohnya, Erik, anak pertama pasangan Siswanto dan Sherly, mulai memegang kendali usaha Mirota Palagan dan Rumah Mirota. Sementara Bambang dan Iwan, putra pasangan Yangky Iswanti dan Nico Indarto mulai dipercaya menangani Mirota Godean dan Mirota Gejayan.
Siswanto juga sedang menyiapkan anak bungsunya Kristina yang sedang kuliah di Australia untuk memegang perusahaan roti yang diberi nama Cucu Mirota. Perusahaan roti ini didirikan di Nusa Dua, karena ingin memanfaatkan properti yang dimiliki di Bali. Selain itu, Siswanto juga ingin mengembangkan Mirota lebih luas lagi di kota lain supaya lebih dikenal. ”Meski basisnya di Bali, produk Cucu Mirota juga akan dipasarkan di Jawa,” ujar Jozua orang kepercayaan Siswanto.
Sekilas, tak ada yang salah dengan bisnis Grup Mirota. Apalagi, kelihatannya selalu saja ada pengembangan usaha baru. Masing-masing keluarga seperti punya ambisi kuat mengembangkan bisnisnya. Namun, sebenarnya ada ancaman atau bahaya yang mengintai. Pertama, tak adanya sinergi di antara unit-unit bisnis berembel-embel Mirota yang berbeda pemiliknya itu. Masing-masing bergerak sendiri tanpa ada strategi besar yang mengarahkan. Mereka tentu akan kelabakan sendiri bila berhadapan dengan kompetitor yang kuat. Bahkan, karena pengelolanya berbeda, bisa jadi unit-unit bisnis dengan lini bisnis yang sama di lingkungan Grup Mirota, justru saling bersaing. Di samping itu, bila ada unit bisnis berbau Mirota yang citranya rusak, dampaknya akan mengimbas ke unit bisnis lainnya, dan mungkin sulit dijalin upaya bersama untuk mengatasi. Ancaman kedua, karena generasi kedua keluarga Mirota sudah terbilang sepuh (sebagian besar di atas 60 tahun), sedangkan generasi ketiga belum bersatu padu dan kompak.
Menurut pengamat bisnis dari CBES Yogyakarta Nur Feriyanto, untuk menyelamatkan masa depan bisnis Mirota diperlukan suatu pemikiran yang bisa menyatukan semua pengelola bisnis Grup Mirota. Apalagi, saat ini Mirota sudah pada tahap pengalihan ke generasi ketiga. “Untuk menyelamatkan Mirota ke depan, perlu penyatuan generasi ketiga. Mereka perlu memiliki visi yang sama,” ujar Nur.
Nur malah melihat bau persaingan yang begitu kuat antarpengelola bisnis Mirota. Ia mencontohkan munculnya Manna Bakery, yang tak lain milik keluarga Siswanto. Disebutkan Nur, Manna Bakery muncul karena adanya pencatatan hak paten atas Mirota Bakery yang kini dipegang Ninik Wijayanti. Sebelumnya, Mirota Bakery dijalankan Ninik dan Siswanto. Meski produknya sama, tempat produksinya berbeda, Ninik memproduksi Mirota Bakery di Mirota Kotabaru yang sekaligus dijadikan resto. Sementara Siswanto memproduksi di Sambilegi dengan bendera Mirota Indah Indonesia.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, setelah paten Mirota Bakery sebagai milik Ninik didaftarkan, akhirnya Siswanto menghentikan produksi bakery dengan merek Mirota. Ia kemudian mengembangkan merek lain. Dan sejak lima tahun terakhir ini, keluarga Siswanto mengembangkan merek Manna Bakery. “Yang saya lihat Manna Bakery berkembang cukup bagus, dan pasarnya sudah sangat luas,” ungkap Nur.
Menurut Nur, saat ini sebenarnya waktu yang tepat untuk proses alih generasi keluarga besar Mirota. “Sudah saatnya, generasi ketiga tampil,” kata Nur. Apalagi, selama ini sudah ada beberapa orang generasi ketiga yang dilibatkan dalam menjalankan bisnis.
Satu hal yang layak dilakukan generasi ketiga, lanjut Nur, adalah bagaimana mendorong munculnya semangat untuk menyatukan semua bisnis Mirota di bawah satu holding company. Dengan pembentukan holding, bisnis keluarga besar ini akan semakin kuat. ”Dan, hubungan kekeluargaan mereka juga akan kembali kuat,” pengajar di program pascasarjana Universitas Islam Indonesia ini menandaskan.
Suara gending terdengar lembut mengalun ketika SWA tiba di The House of Raminten. Sejumlah wanita berpakaian kemben dan jarik tampak lalu-lalang melayani pengunjung di kafe jamu yang baru dibuka setengah tahun lalu dan kini sedang naik daun itu. Meski namanya memakai bahasa Inggris, suasana yang disuguhkan penuh bernuansa Jawa, mulai dari penampilan karyawan hingga musik yang diperdengarkan.
Pendiri kafe ini adalah Hamzah Sulaiman (59 tahun). Bagi kebanyakan warga Yogya, nama Hamzah dikenal sebagai seniman kawakan yang sering memerankan tokoh waria dalam acara pertunjukan di TV lokal. Namun, ia bukan seniman biasa, karena juga berprofesi sebagai desainer dan pengusaha sukses di Kota Gudeg. Asal tahu saja, sebagai generasi kedua keluarga Mirota, ia adalah pemilik Mirota Batik, salah satu usaha di lingkungan keluarga besar Mirota, yang punya toko di kawasan Malioboro (Yogya) dan Pakem (Sleman).
Tak seperti unit usaha Mirota lainnya, The House of Raminten sama sekali tak menempelkan embel-embel nama Mirota yang menjadi ciri khas bisnis generasi kedua keluarga ini. Secara terang-terangan, Hamzah menjelaskan bahwa ada peraturan internal dalam keluarganya tentang penggunaan nama Mirota, yakni hanya boleh digunakan oleh mereka yang memiliki garis keturunan langsung atau hubungan darah dengan pendiri Mirota. Padahal The House of Raminten merupakan bisnis milik anak angkat Hamzah, Bagus Dwi Setiawan. “Nanti bisa jadi masalah kalau menggunakan nama Mirota,” ujar lelaki yang juga aktif sebagai pengurus Dewan Kerajinan Nasional DIY itu.
Hamzah merupakan bungsu dari lima bersaudara anak pendiri Grup Mirota, yaitu mendiang Hendro Sutikno (Tan Kiem Tik) dan Tini Yuniati (Nyoo Tien Nio). Keempat saudaranya yang lain, mulai dari yang tertua, yakni: Yangky Iswanti (66 tahun), Siswanto (64 tahun), Ninik Wijayanti (62 tahun) dan Ariyanti (60 tahun).
The House of Raminten memang hanya salah satu usaha milik keluarga Hamzah – yang tak memakai nama Mirota. Keluarga kakak-kakaknya memiliki bisnis masing-masing – yang sebagian juga tak memakai nama Mirota. Lalu, bagaimana kabar Mirota sendiri?
Yang jelas, postur bisnis Mirota yang usianya hampir 80 tahun, jauh berbeda dibanding ketika dirintis sang pendirinya. Untuk level Jawa-Tengah-DIY, skala bisnisnya tak bisa lagi dianggap enteng. Maklumlah, cikal bakal kelompok usaha ini adalah sebuah warung kecil. Sekarang, bisnis Mirota mencakup produksi susu, es krim, bakery, supermarket, toko batik, perhotelan, furnitur, dan money changer.
Cerita Mirota bermula ketika Hendro Sutikno yang berstatus sebagai karyawan perusahaan bernama Khian Guan – milik raja gula zaman baheula, Oei Thiong Ham – akan dipindahtugaskan ke Cirebon. Karena keberatan berpisah dari suaminya, Tini yang memiliki keahlian membuat kue dan memasak, mengajak suaminya membuka usaha sendiri. Hendro setuju dengan usul sang istri. Maka, mereka membuka warung di garasi rumah di kawasan Kotabaru, yang kini ditempati Mirota Bakery. Di warung itu, mereka menjual minuman dan roti tawar – dari singkatan hidangan inilah muncul nama Mirota.
Dalam perjalanannya Mirota cepat dikenal. Setelah menyewa tempat di Malioboro, bisnis pasutri ini makin berkembang. Mereka akhirnya memiliki Toko Mirota yang cukup populer di Malioboro kala itu. Setelah merasa modalnya cukup, mereka memberanikan diri mendirikan usaha pabrik susu dengan bendera PT Mirota KSM.
Singkat cerita, sebelum wafat tahun 1970-an, Hendro berhasil mewariskan jiwa bisnis kepada anak-anaknya. Menurut pengakuan Hamzah, bapaknya sengaja mendidik anak-anaknya untuk berwirausaha. “Bapak tidak pernah mendorong anaknya sekolah tinggi-tinggi. Rata-rata kami memang sempat kuliah tapi tidak sampai tamat,” ujar Hamzah.
Penanaman jiwa wirausaha ini tampaknya cukup berhasil. Di tangan generasi kedua, Mirota berkembang dan merambah berbagai lini bisnis. Contohnya, di sektor ritel (pusat perbelanjaan), ada Mirota Kampus, Mirota Babarsari, Mirota Kaliurang, Mirota Palagan, Mirota Gejayan, Mirota Gamping, dan Mirota Godean. Di bidang keuangan ada Mirota Money Changer. Lalu, di dunia hiburan ada Challenger Game Centre dan Rumah Mirota Game Centre (yang belakangan menyediakan fasilitas game online sekaligus kafe). Di bisnis mebel khusus ekspor mereka punya PT Mirota Persada. Selain itu, mereka juga memiliki usaha batik, kerajinan dan pusat penjualan makanan khas daerah lewat Mirota Batik & Craft Centre. Dan masih ada beberapa nama lainnya.
Lokasi bisnis Grup Mirota tidak hanya di Yogya, tetapi tersebar di beberapa kota di Indonesia, mulai dari Denpasar (Mirota Batik & Craft Centre), Nusa Dua (Prosteo Fitness Centre dan Cucu Mirota), Surabaya (Mirota Batik & Craft Centre), Bandung (Hotel Pondok Marta), Tangerang (Mirota Batik & Cratf Centre), dan Batam (Hotel Pantai Mirota).
Khusus di Yogya, nama Mirota sudah kondang. Di kota ini, bendera bisnis Mirota berkibar di mana-mana dalam berbagai jenis usaha. Di bisnis F&B, ada PT Mirota Kinder Sugar Milk (Mirota KSM) yang memproduksi susu bermerek Lactona, Prosteo, dan suplemen manula bermerek Prolansia. Ada pula PT Mirota Sambilegi (es krim), PT Mirota Indah Indonesia (memproduksi bakery bermerek Manna Bakery) dan PT Mirota Kotabaru (Mirota Bakery).
Keluarga Mirota memang terbilang pandai menangkap peluang bisnis. Salah satu kejeliannya adalah menangkap peluang pasar pariwisata Yogya. Saat ini, Mirota Batik dan Mirota Bakery menjadi salah satu gerai yang banyak dikunjungi wisatawan di Kota Gudeg. ”Kalau lagi musim liburan, kami sering kewalahan melayani pengunjung,” ujar Hamzah.
Melihat keberhasilan Grup Mirota selama ini, banyak yang mengira Mirota merupakan satu kelompok usaha yang dijalankan secara bersama-sama (oleh anak-anak sang pendiri). Kenyataannya tidak begitu. Mirota tidak memiliki holding company yang memayungi semua unit bisnisnya. Sebaliknya, setiap anggota keluarga sibuk dengan bisnis masing-masing. Jadi, meskipun mereka sama-sama memakai nama Mirota, sebenarnya kepemilikan setiap usaha yang dikembangkan terpisah-pisah. Itulah sebabnya pengembangan usaha grup ini berjalan sporadis dan tidak terstruktur. Maka, pengembangan bisnis Mirota lebih mengandalkan kreativitas dan kegesitan setiap anak pendiri dalam menerjuni berbagai bidang usaha. Sempat ada wacana untuk membangun semacam holding company yang akan memayungi bisnis keluarga besar Mirota. “Tapi sampai sekarang belum terlaksana,” ujar Jozua L., Manajer Humas PT Mirota KSM, mengakui.
Jozua berpendapat, keberadaan holding company yang memayungi bisnis keluarga besar Mirota merupakan ide yang bagus. Namun, ia melihat holding company seperti itu agaknya hanya akan tinggal wacana saja, karena masing-masing keluarga sudah asyik dengan bisnis masing-masing. “Kami sih berharap generasi ketiga akan bisa mewujudkan impian untuk menyatukan kelompok bisnis Mirota,” kata Jozua.
Jozua boleh berharap. Akan tetapi, yang terjadi belakangan justru cenderung sebaliknya. Hal ini terlihat dengan adanya praktik bagi-bagi bisnis antarkeluarga. Bisnis yang semula berstatus milik bersama kemudian dipisah-pisah untuk dimiliki satu orang saja. Karena itulah, meskipun beberapa perusahan itu sama-sama menggunakan nama Mirota, manajemennya sendiri-sendiri. Jadi masing-masing keturunan pendiri Mirota kini memiliki tanggung jawab terhadap bisnis yang dikelolanya. Berkembang-tidaknya bisnis yang dijalankan tergantung pada kreativitas dan kemampuan pemilik usaha yang bersangkutan.
Sebagai contoh, Siswanto – anak kedua dari Hendro Sutikno – termasuk yang paling banyak mempunyai unit bisnis dengan bendera Mirota. Beberapa bisnis yang dijalankan keluarga Siswanto: PT Mirota Nayan (supermarket), PT Mirota Sambilegi (es krim), PT Mirota Indah Indonesia, Cucu Mirota, Prosteo Fitness Centre, dan Rumah Mirota. Sementara Hamzah memiliki PT Hamzah yang menjalankan bisnis Mirota Batik di Malioboro dan Pakem. Lalu, Yangky Iswanti, selain mengelola PT Kalimas AI, juga memegang beberapa supermarket seperti Mirota Godean dan Mirota Gamping. Adapun Ninik Wijayanti mengelola Mirota Bakery, Mirota Kotabaru, Mirota Gejayan, dan Mirota Money Changer. Dan, Ariyanti yang tinggal di Surabaya menjalankan Mirota Batik & Craft Centre yang ada di Surabaya, Bali, Bandung dan Batam.
Menurut Hamzah, dari sekian banyak bisnis yang dijalankan keluarga besar Mirota, tinggal satu perusahaan yang masih berstatus milik bersama (keluarga Mirota), yakni PT Mirota Kinder Sugar Milk (Mirota KSM). Di perusahaan yang memproduksi susu ini, kepemilikan sahamnya dipegang lima anak Hendro. Menurut sumber SWA, kepemilikan saham mereka masing-masing hampir sama, kecuali Siswanto yang sedikit lebih besar. “Dulu yang membagi saham orang tua kami,” kata Hamzah.
Dari lima bersaudara itu, yang duduk di Dewan Direksi Mirota KSM, ada tiga orang. Siswanto sebagai Dirut dan Direktur Pemasaran, Hamzah sebagai Direktur Produksi, dan Yangky Iswanto dipercaya sebagai Direktur Keuangan. “Di Mirota KSM, kami bekerja berbagi tugas,” Hamzah menerangkan. Menurutnya, mereka sekeluarga berusaha mempertahankan Mirota KSM sebagai milik bersama. Alasannya, hanya lewat Mirota KSM inilah, keluarga besar Mirota bisa menyempatkan waktu buat bertemu. “Kalau tidak ada Mirota KSM mungkin kami sudah tidak ada sarana untuk bertemu lagi,” kata laki-laki yang juga pandai menari ini terus terang.
Hamzah mengakui, ketika ibundanya masih hidup, mereka memiliki pertemuan rutin keluarga sebulan sekali. Setelah sang bunda wafat pada 2005, agenda pertemuan rutin tidak jelas nasibnya. “Kami memang sibuk dengan urusan bisnis masing-masing. Jadi, ketemunya hanya lewat telepon,” ujarnya dengan nada rendah.
Selain sibuk menjalankan bisnis, generasi kedua Mirota ternyata juga sibuk menyiapkan generasi ketiga untuk meneruskan roda usaha masing-masing. Beberapa anggota generasi ketiga keluarga Mirota memang tercatat telah menjalankan bisnis masing-masing. Contohnya, Erik, anak pertama pasangan Siswanto dan Sherly, mulai memegang kendali usaha Mirota Palagan dan Rumah Mirota. Sementara Bambang dan Iwan, putra pasangan Yangky Iswanti dan Nico Indarto mulai dipercaya menangani Mirota Godean dan Mirota Gejayan.
Siswanto juga sedang menyiapkan anak bungsunya Kristina yang sedang kuliah di Australia untuk memegang perusahaan roti yang diberi nama Cucu Mirota. Perusahaan roti ini didirikan di Nusa Dua, karena ingin memanfaatkan properti yang dimiliki di Bali. Selain itu, Siswanto juga ingin mengembangkan Mirota lebih luas lagi di kota lain supaya lebih dikenal. ”Meski basisnya di Bali, produk Cucu Mirota juga akan dipasarkan di Jawa,” ujar Jozua orang kepercayaan Siswanto.
Sekilas, tak ada yang salah dengan bisnis Grup Mirota. Apalagi, kelihatannya selalu saja ada pengembangan usaha baru. Masing-masing keluarga seperti punya ambisi kuat mengembangkan bisnisnya. Namun, sebenarnya ada ancaman atau bahaya yang mengintai. Pertama, tak adanya sinergi di antara unit-unit bisnis berembel-embel Mirota yang berbeda pemiliknya itu. Masing-masing bergerak sendiri tanpa ada strategi besar yang mengarahkan. Mereka tentu akan kelabakan sendiri bila berhadapan dengan kompetitor yang kuat. Bahkan, karena pengelolanya berbeda, bisa jadi unit-unit bisnis dengan lini bisnis yang sama di lingkungan Grup Mirota, justru saling bersaing. Di samping itu, bila ada unit bisnis berbau Mirota yang citranya rusak, dampaknya akan mengimbas ke unit bisnis lainnya, dan mungkin sulit dijalin upaya bersama untuk mengatasi. Ancaman kedua, karena generasi kedua keluarga Mirota sudah terbilang sepuh (sebagian besar di atas 60 tahun), sedangkan generasi ketiga belum bersatu padu dan kompak.
Menurut pengamat bisnis dari CBES Yogyakarta Nur Feriyanto, untuk menyelamatkan masa depan bisnis Mirota diperlukan suatu pemikiran yang bisa menyatukan semua pengelola bisnis Grup Mirota. Apalagi, saat ini Mirota sudah pada tahap pengalihan ke generasi ketiga. “Untuk menyelamatkan Mirota ke depan, perlu penyatuan generasi ketiga. Mereka perlu memiliki visi yang sama,” ujar Nur.
Nur malah melihat bau persaingan yang begitu kuat antarpengelola bisnis Mirota. Ia mencontohkan munculnya Manna Bakery, yang tak lain milik keluarga Siswanto. Disebutkan Nur, Manna Bakery muncul karena adanya pencatatan hak paten atas Mirota Bakery yang kini dipegang Ninik Wijayanti. Sebelumnya, Mirota Bakery dijalankan Ninik dan Siswanto. Meski produknya sama, tempat produksinya berbeda, Ninik memproduksi Mirota Bakery di Mirota Kotabaru yang sekaligus dijadikan resto. Sementara Siswanto memproduksi di Sambilegi dengan bendera Mirota Indah Indonesia.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, setelah paten Mirota Bakery sebagai milik Ninik didaftarkan, akhirnya Siswanto menghentikan produksi bakery dengan merek Mirota. Ia kemudian mengembangkan merek lain. Dan sejak lima tahun terakhir ini, keluarga Siswanto mengembangkan merek Manna Bakery. “Yang saya lihat Manna Bakery berkembang cukup bagus, dan pasarnya sudah sangat luas,” ungkap Nur.
Menurut Nur, saat ini sebenarnya waktu yang tepat untuk proses alih generasi keluarga besar Mirota. “Sudah saatnya, generasi ketiga tampil,” kata Nur. Apalagi, selama ini sudah ada beberapa orang generasi ketiga yang dilibatkan dalam menjalankan bisnis.
Satu hal yang layak dilakukan generasi ketiga, lanjut Nur, adalah bagaimana mendorong munculnya semangat untuk menyatukan semua bisnis Mirota di bawah satu holding company. Dengan pembentukan holding, bisnis keluarga besar ini akan semakin kuat. ”Dan, hubungan kekeluargaan mereka juga akan kembali kuat,” pengajar di program pascasarjana Universitas Islam Indonesia ini menandaskan.
Kawasan Jogja utara memang sangat menjanjikan untuk bisnis maupun investasi. Buktinya di kawasan ini bermunculan banyak hotel, restoran, rumah makan maupun toko fashion baru. Seperti yang kini tengah dirintis Faruck Sholekhan, pria kelahiran Jepara yang kini membuka usaha wisata Fashion di kawasan Palagan , Rejodani Jogjakarta. Faruk memiliki alasan tersendiri membuka usaha fashion ini karena dibenaknya Jogja selain kota pelajar juga kota mode. "Disini hampir setiap minggu keluar mode fashion terbaru bahkan ahli perancang busana di kota ini banyak yang sukses di ibukota. Ini bukti kalau Jogja memiliki potensi menjadi kota mode dan fashion ternama," ungkap Faruck - alumni STTNas Jogja yang kini memiliki 4 outlet fashion di beberapa tempat di Jogja.
Selain fashion, dimata Faruck, Jogja utara juga masih menjanjikan untuk usaha bisnis pariwisata termasuk pemacingan, rumah makan dan wisata outbound lainya. Lokasi dengan pemandangan alam yang indah, juga kawasan yang cepat berkembang menjadi pilihan bagi kalangan pebisnis, termasuk dirinya untuk tertarik membuka usaha wisata baru. "Kalau outlet fashion ini hanya sampingan. Yang utama sebenarnya distributor Pralon Jateng/DIY," jelas Faruck sambil tersenyum.
Kunci sukses mengelola bisnisnya selama 8 tahun lebih selain terus menjaga kualitas produk juga selalu kreatif menangkap peluang pasar. Selain itu dirinya mengaku harus percaya diri dan jujur. "Kalau kini usaha saha bisa jalan alhamdulilah. Tapi tersu terang saja saya pernah jatuh . 9 mobil saya jual untuk nutup utang," kenang Faruck.
Soal pariwisata Jogja, dirinya optimis propek ke depan masih akan cerah dan sangat menjanjikan. Asal semua kompak dan bersinergis menjalin kerjasama.
Source: www.visitingjogja.com
Selain fashion, dimata Faruck, Jogja utara juga masih menjanjikan untuk usaha bisnis pariwisata termasuk pemacingan, rumah makan dan wisata outbound lainya. Lokasi dengan pemandangan alam yang indah, juga kawasan yang cepat berkembang menjadi pilihan bagi kalangan pebisnis, termasuk dirinya untuk tertarik membuka usaha wisata baru. "Kalau outlet fashion ini hanya sampingan. Yang utama sebenarnya distributor Pralon Jateng/DIY," jelas Faruck sambil tersenyum.
Kunci sukses mengelola bisnisnya selama 8 tahun lebih selain terus menjaga kualitas produk juga selalu kreatif menangkap peluang pasar. Selain itu dirinya mengaku harus percaya diri dan jujur. "Kalau kini usaha saha bisa jalan alhamdulilah. Tapi tersu terang saja saya pernah jatuh . 9 mobil saya jual untuk nutup utang," kenang Faruck.
Soal pariwisata Jogja, dirinya optimis propek ke depan masih akan cerah dan sangat menjanjikan. Asal semua kompak dan bersinergis menjalin kerjasama.
Source: www.visitingjogja.com
Anda mencari tempat servis harddisk di Jogja ??? maka anda sudah berada pada tempat yang tepat. Kami Glossy Computer melayani servis harddisk di Jogja. Jika harddisk komputer anda bermasalah & di dalam harddisk tersebut terdapat data-data yang sangat penting, silahkan hubungi Glossy Computer di 0818277129 untuk solusi hard disk anda di Jogja.
Kami beralamat di Perum. Polda Purwomartani Blok R 13. Sebelah utara candi sambisari atau sebelah timur stadion PSS Sleman lebih tepatnya Sebelah timur Kali (sungai) kuning.
Harddisk merupakan salah satu peripheral penting di dalam komputer. Karena harddisk merupakan media storage tempat kita menyimpan semua data. Harddisk seperti halnya dengan peripheral lain yang bisa mengalami kerusakan akibat static electricity (listrik statis), electric shock, dan berbagai faktor lainnya yang akhirnya kita bisa kehilangan data-data dalam hard disk.
Harddisk merupakan media penyimpan yang didesain untuk dapat digunakan menyimpan data dalam kapasitas yang besar. Data disimpan sebagai pulsa magnetik pada piringan metal yang berputar yang terintegrasi. Data disimpan dalam lingkaran konsentris yang disebut track. Tiap track dibagi dalam beberapa segment yang dikenal sebagai sector. Untuk melakukan operasi baca tulis data dari dan ke piringan, harddisk menggunakan head untuk melakukannya, yang berada disetiap piringan. Head inilah yang selanjut bergerak mencari sector-sector tertentu untuk dilakukan operasi terhadapnya. Waktu yang diperlukan untuk mencari sector disebut seek time. Setelah menemukan sector yang diinginkan, maka head akan berputar untuk mencari track. Waktu yang diperlukan untuk mencari track ini dinamakan latency, Semakin pendek waktu `seek` dan `latency`, semakin cepat harddisk tersebut menyelesaikan pekerjaannya. Apabila dari salah satu saja dari hal tersebut terganggu, sudah bisa dipastikan kerja hardisk anda akan terganggu.
Oleh karena itu, jika ada masalah dengan harddisk anda silahkan hubungi Glossy Computer / Yunanto di 0818 277 129, menyediakan jasa servis hard disk untuk komputer anda baik untuk servis harddisk ataupun recovery data di Jogja.
Layanan TRANSMOJO yang lainnya adalah layanan antar jemput penumpang, atau Taxi Motor serta antar jemput Barang. dengan layanan ini maka Konsumen dapat menggunakan jasa kami dengan lebih mudah dan murah.
1. LAYANAN ANTAR PENUMPANG / LAYANAN SEKALI ANTAR
* Dengan menggunakan jasa layanan antar penumpang ini, anda akan dijemput oleh driver kami dan kami akan mengantar anda hingga ke tempat tujuan.
* Dengan menggunakan tariff flat (sama) Jauh dekat Rp 10.000,- untuk sekali antar
* Batasan wilayah untuk tarif Rp 10.000,- adalah wilayah dalam Ringroad. Selebihnya akan dikenakan biaya tambahan Rp 5.000 – Rp 10.000,- ( biaya tambahan tersebut sebesar Rp 5.000,-/10KM setelah melewati ring road )
* Untuk tujuan anda yang jauh di luar Jogja, anda bisa konfirmasi harga terlebih dahulu pada saat pemesanan melalui call centre kami di 0818277129.
* Untuk anda yang berangkat dari luar kota menuju Jogja dengan menggunakan transportasi bis, kereta atau pesawat. Anda dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui call centre 0818277129, dengan memberikan informasi identitas dan jam kedatangan di tempat. Kami akan menunggu anda, dan mengantarkan anda ke tempat tujuan. Jam kedatangan tidak dibatasi.
* Biaya yang dikenakan adalah Rp 15.000,- ditambah biaya parkir Rp 1.500 ( utk stasiun dan terminal ) dan Rp 2.000 untuk bandara.
* Dengan sistem layanan ini, anda tidak perlu bingung dan khawatir, karena semuanya telah kami siapkan untuk kemudahan transportasi anda.
* Pemesanan untuk layanan ini pada jam operasional kerja Pkl. 08.00 s/d Pkl. 21.00.
2. LAYANAN ANTAR BARANG.
* Untuk layanan antar barang, anda bisa menghubungi call centre di no 0818277129. Anda bisa memberikan informasi alamat pengambilan barang serta alamat tujuan.
* Pengantaran atau pemesanan Oleh – oleh.
* Pengantaran barang atau box ke tempat tinggal anda.
* Pengantaran Dokumen atau surat – surat penting yang tertinggal.
* Pengantaran barang ke jasa ekspidisi, Travel, Kereta Api, Bandara ( jasa pengantaran luar kota ) untuk dilakukan pengiriman kembali ke luar kota.
Sistem pengantaran dan pemesanan Oleh – Oleh Khas Jogja
Jika anda memerlukan jasa kami dalam mengantarkan oleh – oleh atau pembelian sesuatu barang khas Jogja, kami dapat melayani dengan menghubungi call centre. Berikut ini ada beberapa aternatif atau cara pemesanan, agar anda dapat membawa oleh – oleh khas Jogja untuk teman atau saudara anda.
Alternatif I :
* Anda dapat menghubungi toko oleh – oleh yang ingin anda pesan, dengan melakukan pemesanan terlebih dahulu.
* Setelah itu anda menghubungi kami melalui call centre 0818277129 untuk menjelaskan alamat toko tersebut.
* Kami akan membayar pesanan anda terlebih dahulu, dan mengantar ke tempat anda.
Alternatif II :
* Anda dapat menghubungi kami melalui call centre 0818277129, dengan melakukan pemesanan melalui kami.
* Kami memiliki beberapa rincian jenis oleh – oleh yang bisa anda pesan.
* Jenis oleh – oleh yang bisa kami terima antara lain : Gudeg Kering, Bakpia Pathuk, Ayam Goreng Suharti, Batagor Mang Udi, Kaos Dagadu, dll.
* Setelah itu, kami akan melakukan pemesanan ke toko oleh – oleh serta mengantarkannya ke tempat anda.
Keterangan :
* Anda dapat membayar harga pesanan tersebut ditambah biaya kirim Rp. 10.000,-
* Kami tidak akan menaikan harga pesanan anda ( sesuai dengan harga toko ), kami hanya menerima jasa pengantarannya saja.
* Untuj jenis produk – produk tertentu, kami akan menghubungi anda setelah sampai tempat toko tersebut.
* Dalam melakukan pemesanan, anda dapat menentukan toko sendiri dengan memberikan informasi alamat dan no telp kepada kami.
Alternatif III :
* Anda bisa menggunakan jasa layanan kami dengan menggunakan jasa pengantaran penumpang. Kami dapat mengantarkan anda ke toko oleh – oleh yang anda inginkan, atau kami akan memberikan beberapa referensi toko oleh – oleh jika anda belum memiliki gambarannya.
* Dengan menggunakan jasa ini, anda hanya dikenakan 2 kali penggunaan jasa kami, dengan jumlah pembayaran Rp 20.000,- ( 2 x Rp 10.000 ).
* Anda akan merasa lebih leluasa dan dapat menentukan jenis produk yang anda ingin bawa pulang sebagai oleh – oleh.
* Untuk daftar barang / oleh – oleh yang menjadi referensi anda bisa dilihat pada halaman wisata belanja.
Keterangan :
* Dengan sistem penggunaan jasa seperti ini, anda hanya dapat dilayani ke 2 tempat. Yaitu : dari tempat tinggal anda menuju ke toko oleh – oleh, dan dari toko oleh – oleh tersebut menuju ke tempat tinggal anda kembali.
* Sistem ini tidak berlaku untuk penggunaan ke tempat lainnya. Kecuali anda ingin menambahkan dalam penggunaan jasa kami, dengan menghubungi call centre kami terlebih dahulu. Biaya tambahan yang dikenakan sesuai dengan tarif, yaitu Rp 10.000,- untuk sekali antar ke satu tempat.
Paket Penyebaran Undangan / Surat.
Jika anda ingin melaksanakan acara pernikahan dan kesulitan dalam melakukan pengiriman undangan pernikahan di Kota Jogja. Anda bisa memanfaatkan layanan antar barang paket Penyebaran udangan/surat TransMOJO dengan menghubungi kami di call centre 0818277129
Adapun sistem pemesanannya sebagai berikut :
1. Anda menghubungi call centre kami di HP:0818 277 129, untuk melakukan pemesanan layanan antar barang paket undangan pernikahan.
2. Anda bisa memberikan informasi jumlah undangan yang akan dikirim, lokasi – lokasinya, alamat pengambilan undangan, dan waktu pelaksanaan.
3. Selanjutnya kami akan memberikan harga kepada anda, untuk jenis layanan antar barang paket penyebaran undangan tersebut.
4. Selanjutnya anda bisa kirim pembayaran melalui rekening kami, atau pembayaran secara tunai melalui driver kami.
Setelah berkutat dengan dunia offline, kini saatnya GAJAKSAHDA melakukan perubahan terhadap weblog yang tercinta ini. Memang diakui, saat ini blog gajaksahda banyak kelemahan sehingga tidak dapat memuaskan anda semua.
Namun keinginan kami untuk membantu masyarakat di Indonesia untuk dapat berwirausaha sangatlah tinggi, sehingga kami berkeinginan untuk memperbaiki media informasi ini dengan lebih nyaman dan tentu saja bermanfaat bagi pengunjung.
Berikut ini beberapa perubahan yang akan terjadi pada Gajaksahda.com:
1. Nama website akan berganti menjadi: www.gajaksahda.com
2. Website kami ditujukan untuk para calon pebisnis ataupun pebisnis pemula yang sedang mencari referensi bisnis. Sehingga materi gajaksahda akan kami fokuskan pada info dan peluang bisnis.
3. Banyak terdapat informasi bisnis dan peluang - peluang bisnis
4. Memang sudah banyak website atau blog lain yang membahas pada topik bisnis, namun disini kami ingin memberikan nilai lebih pada website kami
5. Website kami berisikan: Peluang Bisnis, Info dan Agenda Bisnis, Potensi Bisni di seluruh Indonesia, Konsultasi Bisnis, Iklan Bisnis, dan berbagai macam kebutuhan untuk berbisnis.
Sebelumnya, kami dari tim Gajaksahda mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi pengunjung, baik yang dialamatkan melalui email ataupun komentar pada web blog ini. Semoga dengan keberadaan website yang baru ini, kami bisa lebih membantu anda yang ingin membuka usaha.
Namun keinginan kami untuk membantu masyarakat di Indonesia untuk dapat berwirausaha sangatlah tinggi, sehingga kami berkeinginan untuk memperbaiki media informasi ini dengan lebih nyaman dan tentu saja bermanfaat bagi pengunjung.
Berikut ini beberapa perubahan yang akan terjadi pada Gajaksahda.com:
1. Nama website akan berganti menjadi: www.gajaksahda.com
2. Website kami ditujukan untuk para calon pebisnis ataupun pebisnis pemula yang sedang mencari referensi bisnis. Sehingga materi gajaksahda akan kami fokuskan pada info dan peluang bisnis.
3. Banyak terdapat informasi bisnis dan peluang - peluang bisnis
4. Memang sudah banyak website atau blog lain yang membahas pada topik bisnis, namun disini kami ingin memberikan nilai lebih pada website kami
5. Website kami berisikan: Peluang Bisnis, Info dan Agenda Bisnis, Potensi Bisni di seluruh Indonesia, Konsultasi Bisnis, Iklan Bisnis, dan berbagai macam kebutuhan untuk berbisnis.
Sebelumnya, kami dari tim Gajaksahda mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi pengunjung, baik yang dialamatkan melalui email ataupun komentar pada web blog ini. Semoga dengan keberadaan website yang baru ini, kami bisa lebih membantu anda yang ingin membuka usaha.




