Latest News

Menengok Generasi Kedua dari Penguasa MIROTA

Di tangan generasi kedua, bisnis Mirota berkembang pesat. Sayangnya, pemisahan kepemilikan masing-masing unit bisnis (perusahaan) dan nuansa persaingan di antara anak-anak pendiri mengancam kekompakan keluarga, bahkan keberlangsungan bisnis yang hampir melegenda ini. Bagaimana menyelamatkannya sebelum benar-benar berantakan?
 
Suara gending terdengar lembut mengalun ketika SWA tiba di The House of Raminten. Sejumlah wanita berpakaian kemben dan jarik tampak lalu-lalang melayani pengunjung di kafe jamu yang baru dibuka setengah tahun lalu dan kini sedang naik daun itu. Meski namanya memakai bahasa Inggris, suasana yang disuguhkan penuh bernuansa Jawa, mulai dari penampilan karyawan hingga musik yang diperdengarkan.

Pendiri kafe ini adalah Hamzah Sulaiman (59 tahun). Bagi kebanyakan warga Yogya, nama Hamzah dikenal sebagai seniman kawakan yang sering memerankan tokoh waria dalam acara pertunjukan di TV lokal. Namun, ia bukan seniman biasa, karena juga berprofesi sebagai desainer dan pengusaha sukses di Kota Gudeg. Asal tahu saja, sebagai generasi kedua keluarga Mirota, ia adalah pemilik Mirota Batik, salah satu usaha di lingkungan keluarga besar Mirota, yang punya toko di kawasan Malioboro (Yogya) dan Pakem (Sleman).

Tak seperti unit usaha Mirota lainnya, The House of Raminten sama sekali tak menempelkan embel-embel nama Mirota yang menjadi ciri khas bisnis generasi kedua keluarga ini. Secara terang-terangan, Hamzah menjelaskan bahwa ada peraturan internal dalam keluarganya tentang penggunaan nama Mirota, yakni hanya boleh digunakan oleh mereka yang memiliki garis keturunan langsung atau hubungan darah dengan pendiri Mirota. Padahal The House of Raminten merupakan bisnis milik anak angkat Hamzah, Bagus Dwi Setiawan. “Nanti bisa jadi masalah kalau menggunakan nama Mirota,” ujar lelaki yang juga aktif sebagai pengurus Dewan Kerajinan Nasional DIY itu.

Hamzah merupakan bungsu dari lima bersaudara anak pendiri Grup Mirota, yaitu mendiang Hendro Sutikno (Tan Kiem Tik) dan Tini Yuniati (Nyoo Tien Nio). Keempat saudaranya yang lain, mulai dari yang tertua, yakni: Yangky Iswanti (66 tahun), Siswanto (64 tahun), Ninik Wijayanti (62 tahun) dan Ariyanti (60 tahun).

The House of Raminten memang hanya salah satu usaha milik keluarga Hamzah – yang tak memakai nama Mirota. Keluarga kakak-kakaknya memiliki bisnis masing-masing – yang sebagian juga tak memakai nama Mirota. Lalu, bagaimana kabar Mirota sendiri?

Yang jelas, postur bisnis Mirota yang usianya hampir 80 tahun, jauh berbeda dibanding ketika dirintis sang pendirinya. Untuk level Jawa-Tengah-DIY, skala bisnisnya tak bisa lagi dianggap enteng. Maklumlah, cikal bakal kelompok usaha ini adalah sebuah warung kecil. Sekarang, bisnis Mirota mencakup produksi susu, es krim, bakery, supermarket, toko batik, perhotelan, furnitur, dan money changer.

Cerita Mirota bermula ketika Hendro Sutikno yang berstatus sebagai karyawan perusahaan bernama Khian Guan – milik raja gula zaman baheula, Oei Thiong Ham – akan dipindahtugaskan ke Cirebon. Karena keberatan berpisah dari suaminya, Tini yang memiliki keahlian membuat kue dan memasak, mengajak suaminya membuka usaha sendiri. Hendro setuju dengan usul sang istri. Maka, mereka membuka warung di garasi rumah di kawasan Kotabaru, yang kini ditempati Mirota Bakery. Di warung itu, mereka menjual minuman dan roti tawar – dari singkatan hidangan inilah muncul nama Mirota.

Dalam perjalanannya Mirota cepat dikenal. Setelah menyewa tempat di Malioboro, bisnis pasutri ini makin berkembang. Mereka akhirnya memiliki Toko Mirota yang cukup populer di Malioboro kala itu. Setelah merasa modalnya cukup, mereka memberanikan diri mendirikan usaha pabrik susu dengan bendera PT Mirota KSM.

Singkat cerita, sebelum wafat tahun 1970-an, Hendro berhasil mewariskan jiwa bisnis kepada anak-anaknya. Menurut pengakuan Hamzah, bapaknya sengaja mendidik anak-anaknya untuk berwirausaha. “Bapak tidak pernah mendorong anaknya sekolah tinggi-tinggi. Rata-rata kami memang sempat kuliah tapi tidak sampai tamat,” ujar Hamzah.

Penanaman jiwa wirausaha ini tampaknya cukup berhasil. Di tangan generasi kedua, Mirota berkembang dan merambah berbagai lini bisnis. Contohnya, di sektor ritel (pusat perbelanjaan), ada Mirota Kampus, Mirota Babarsari, Mirota Kaliurang, Mirota Palagan, Mirota Gejayan, Mirota Gamping, dan Mirota Godean. Di bidang keuangan ada Mirota Money Changer. Lalu, di dunia hiburan ada Challenger Game Centre dan Rumah Mirota Game Centre (yang belakangan menyediakan fasilitas game online sekaligus kafe). Di bisnis mebel khusus ekspor mereka punya PT Mirota Persada. Selain itu, mereka juga memiliki usaha batik, kerajinan dan pusat penjualan makanan khas daerah lewat Mirota Batik & Craft Centre. Dan masih ada beberapa nama lainnya.

Lokasi bisnis Grup Mirota tidak hanya di Yogya, tetapi tersebar di beberapa kota di Indonesia, mulai dari Denpasar (Mirota Batik & Craft Centre), Nusa Dua (Prosteo Fitness Centre dan Cucu Mirota), Surabaya (Mirota Batik & Craft Centre), Bandung (Hotel Pondok Marta), Tangerang (Mirota Batik & Cratf Centre), dan Batam (Hotel Pantai Mirota).

Khusus di Yogya, nama Mirota sudah kondang. Di kota ini, bendera bisnis Mirota berkibar di mana-mana dalam berbagai jenis usaha. Di bisnis F&B, ada PT Mirota Kinder Sugar Milk (Mirota KSM) yang memproduksi susu bermerek Lactona, Prosteo, dan suplemen manula bermerek Prolansia. Ada pula PT Mirota Sambilegi (es krim), PT Mirota Indah Indonesia (memproduksi bakery bermerek Manna Bakery) dan PT Mirota Kotabaru (Mirota Bakery).

Keluarga Mirota memang terbilang pandai menangkap peluang bisnis. Salah satu kejeliannya adalah menangkap peluang pasar pariwisata Yogya. Saat ini, Mirota Batik dan Mirota Bakery menjadi salah satu gerai yang banyak dikunjungi wisatawan di Kota Gudeg. ”Kalau lagi musim liburan, kami sering kewalahan melayani pengunjung,” ujar Hamzah.

Melihat keberhasilan Grup Mirota selama ini, banyak yang mengira Mirota merupakan satu kelompok usaha yang dijalankan secara bersama-sama (oleh anak-anak sang pendiri). Kenyataannya tidak begitu. Mirota tidak memiliki holding company yang memayungi semua unit bisnisnya. Sebaliknya, setiap anggota keluarga sibuk dengan bisnis masing-masing. Jadi, meskipun mereka sama-sama memakai nama Mirota, sebenarnya kepemilikan setiap usaha yang dikembangkan terpisah-pisah. Itulah sebabnya pengembangan usaha grup ini berjalan sporadis dan tidak terstruktur. Maka, pengembangan bisnis Mirota lebih mengandalkan kreativitas dan kegesitan setiap anak pendiri dalam menerjuni berbagai bidang usaha. Sempat ada wacana untuk membangun semacam holding company yang akan memayungi bisnis keluarga besar Mirota. “Tapi sampai sekarang belum terlaksana,” ujar Jozua L., Manajer Humas PT Mirota KSM, mengakui.

Jozua berpendapat, keberadaan holding company yang memayungi bisnis keluarga besar Mirota merupakan ide yang bagus. Namun, ia melihat holding company seperti itu agaknya hanya akan tinggal wacana saja, karena masing-masing keluarga sudah asyik dengan bisnis masing-masing. “Kami sih berharap generasi ketiga akan bisa mewujudkan impian untuk menyatukan kelompok bisnis Mirota,” kata Jozua.

Jozua boleh berharap. Akan tetapi, yang terjadi belakangan justru cenderung sebaliknya. Hal ini terlihat dengan adanya praktik bagi-bagi bisnis antarkeluarga. Bisnis yang semula berstatus milik bersama kemudian dipisah-pisah untuk dimiliki satu orang saja. Karena itulah, meskipun beberapa perusahan itu sama-sama menggunakan nama Mirota, manajemennya sendiri-sendiri. Jadi masing-masing keturunan pendiri Mirota kini memiliki tanggung jawab terhadap bisnis yang dikelolanya. Berkembang-tidaknya bisnis yang dijalankan tergantung pada kreativitas dan kemampuan pemilik usaha yang bersangkutan.

Sebagai contoh, Siswanto – anak kedua dari Hendro Sutikno – termasuk yang paling banyak mempunyai unit bisnis dengan bendera Mirota. Beberapa bisnis yang dijalankan keluarga Siswanto: PT Mirota Nayan (supermarket), PT Mirota Sambilegi (es krim), PT Mirota Indah Indonesia, Cucu Mirota, Prosteo Fitness Centre, dan Rumah Mirota. Sementara Hamzah memiliki PT Hamzah yang menjalankan bisnis Mirota Batik di Malioboro dan Pakem. Lalu, Yangky Iswanti, selain mengelola PT Kalimas AI, juga memegang beberapa supermarket seperti Mirota Godean dan Mirota Gamping. Adapun Ninik Wijayanti mengelola Mirota Bakery, Mirota Kotabaru, Mirota Gejayan, dan Mirota Money Changer. Dan, Ariyanti yang tinggal di Surabaya menjalankan Mirota Batik & Craft Centre yang ada di Surabaya, Bali, Bandung dan Batam.

Menurut Hamzah, dari sekian banyak bisnis yang dijalankan keluarga besar Mirota, tinggal satu perusahaan yang masih berstatus milik bersama (keluarga Mirota), yakni PT Mirota Kinder Sugar Milk (Mirota KSM). Di perusahaan yang memproduksi susu ini, kepemilikan sahamnya dipegang lima anak Hendro. Menurut sumber SWA, kepemilikan saham mereka masing-masing hampir sama, kecuali Siswanto yang sedikit lebih besar. “Dulu yang membagi saham orang tua kami,” kata Hamzah.

Dari lima bersaudara itu, yang duduk di Dewan Direksi Mirota KSM, ada tiga orang. Siswanto sebagai Dirut dan Direktur Pemasaran, Hamzah sebagai Direktur Produksi, dan Yangky Iswanto dipercaya sebagai Direktur Keuangan. “Di Mirota KSM, kami bekerja berbagi tugas,” Hamzah menerangkan. Menurutnya, mereka sekeluarga berusaha mempertahankan Mirota KSM sebagai milik bersama. Alasannya, hanya lewat Mirota KSM inilah, keluarga besar Mirota bisa menyempatkan waktu buat bertemu. “Kalau tidak ada Mirota KSM mungkin kami sudah tidak ada sarana untuk bertemu lagi,” kata laki-laki yang juga pandai menari ini terus terang.

Hamzah mengakui, ketika ibundanya masih hidup, mereka memiliki pertemuan rutin keluarga sebulan sekali. Setelah sang bunda wafat pada 2005, agenda pertemuan rutin tidak jelas nasibnya. “Kami memang sibuk dengan urusan bisnis masing-masing. Jadi, ketemunya hanya lewat telepon,” ujarnya dengan nada rendah.

Selain sibuk menjalankan bisnis, generasi kedua Mirota ternyata juga sibuk menyiapkan generasi ketiga untuk meneruskan roda usaha masing-masing. Beberapa anggota generasi ketiga keluarga Mirota memang tercatat telah menjalankan bisnis masing-masing. Contohnya, Erik, anak pertama pasangan Siswanto dan Sherly, mulai memegang kendali usaha Mirota Palagan dan Rumah Mirota. Sementara Bambang dan Iwan, putra pasangan Yangky Iswanti dan Nico Indarto mulai dipercaya menangani Mirota Godean dan Mirota Gejayan.

Siswanto juga sedang menyiapkan anak bungsunya Kristina yang sedang kuliah di Australia untuk memegang perusahaan roti yang diberi nama Cucu Mirota. Perusahaan roti ini didirikan di Nusa Dua, karena ingin memanfaatkan properti yang dimiliki di Bali. Selain itu, Siswanto juga ingin mengembangkan Mirota lebih luas lagi di kota lain supaya lebih dikenal. ”Meski basisnya di Bali, produk Cucu Mirota juga akan dipasarkan di Jawa,” ujar Jozua orang kepercayaan Siswanto.

Sekilas, tak ada yang salah dengan bisnis Grup Mirota. Apalagi, kelihatannya selalu saja ada pengembangan usaha baru. Masing-masing keluarga seperti punya ambisi kuat mengembangkan bisnisnya. Namun, sebenarnya ada ancaman atau bahaya yang mengintai. Pertama, tak adanya sinergi di antara unit-unit bisnis berembel-embel Mirota yang berbeda pemiliknya itu. Masing-masing bergerak sendiri tanpa ada strategi besar yang mengarahkan. Mereka tentu akan kelabakan sendiri bila berhadapan dengan kompetitor yang kuat. Bahkan, karena pengelolanya berbeda, bisa jadi unit-unit bisnis dengan lini bisnis yang sama di lingkungan Grup Mirota, justru saling bersaing. Di samping itu, bila ada unit bisnis berbau Mirota yang citranya rusak, dampaknya akan mengimbas ke unit bisnis lainnya, dan mungkin sulit dijalin upaya bersama untuk mengatasi. Ancaman kedua, karena generasi kedua keluarga Mirota sudah terbilang sepuh (sebagian besar di atas 60 tahun), sedangkan generasi ketiga belum bersatu padu dan kompak.

Menurut pengamat bisnis dari CBES Yogyakarta Nur Feriyanto, untuk menyelamatkan masa depan bisnis Mirota diperlukan suatu pemikiran yang bisa menyatukan semua pengelola bisnis Grup Mirota. Apalagi, saat ini Mirota sudah pada tahap pengalihan ke generasi ketiga. “Untuk menyelamatkan Mirota ke depan, perlu penyatuan generasi ketiga. Mereka perlu memiliki visi yang sama,” ujar Nur.

Nur malah melihat bau persaingan yang begitu kuat antarpengelola bisnis Mirota. Ia mencontohkan munculnya Manna Bakery, yang tak lain milik keluarga Siswanto. Disebutkan Nur, Manna Bakery muncul karena adanya pencatatan hak paten atas Mirota Bakery yang kini dipegang Ninik Wijayanti. Sebelumnya, Mirota Bakery dijalankan Ninik dan Siswanto. Meski produknya sama, tempat produksinya berbeda, Ninik memproduksi Mirota Bakery di Mirota Kotabaru yang sekaligus dijadikan resto. Sementara Siswanto memproduksi di Sambilegi dengan bendera Mirota Indah Indonesia.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, setelah paten Mirota Bakery sebagai milik Ninik didaftarkan, akhirnya Siswanto menghentikan produksi bakery dengan merek Mirota. Ia kemudian mengembangkan merek lain. Dan sejak lima tahun terakhir ini, keluarga Siswanto mengembangkan merek Manna Bakery. “Yang saya lihat Manna Bakery berkembang cukup bagus, dan pasarnya sudah sangat luas,” ungkap Nur.

Menurut Nur, saat ini sebenarnya waktu yang tepat untuk proses alih generasi keluarga besar Mirota. “Sudah saatnya, generasi ketiga tampil,” kata Nur. Apalagi, selama ini sudah ada beberapa orang generasi ketiga yang dilibatkan dalam menjalankan bisnis.

Satu hal yang layak dilakukan generasi ketiga, lanjut Nur, adalah bagaimana mendorong munculnya semangat untuk menyatukan semua bisnis Mirota di bawah satu holding company. Dengan pembentukan holding, bisnis keluarga besar ini akan semakin kuat. ”Dan, hubungan kekeluargaan mereka juga akan kembali kuat,” pengajar di program pascasarjana Universitas Islam Indonesia ini menandaskan.
Tags: , , ,

About author

Curabitur at est vel odio aliquam fermentum in vel tortor. Aliquam eget laoreet metus. Quisque auctor dolor fermentum nisi imperdiet vel placerat purus convallis.

0 komentar

Leave a Reply